TIMES GIANYAR, JAKARTA – Presiden Venezuela yang digulingkan, Nicolas Maduro, menyatakan tidak bersalah di pengadilan federal New York pada Senin (5/1/2025) waktu setempat atas dakwaan narco-terrorisme dan perdagangan narkoba. Dalam pernyataannya di depan hakim, Maduro menegaskan, "Saya adalah pria yang punya moral, presiden negara saya."
Sidang ini berlangsung setelah penangkapannya oleh pasukan AS yang mengguncang dunia.
Maduro (63) dan istrinya, Cilia Flores, membantah semua tuduhan, termasuk konspirasi narco-terrorisme, impor kokain, dan pelanggaran senjata. Jaksa menuduh pasangan ini bekerja sama dengan kartel narkoba dan kelompok bersenjata untuk membanjiri AS dengan kokain. Jika terbukti bersalah, mereka bisa menghadapi hukuman seumur hidup.
Maduro memasuki ruang sidang dengan mengenakan seragam penjara biru, tangan sebelumnya diborgol dengan tie wrap, dan duduk di samping pengacaranya. Keduanya menggunakan headphone untuk mengikuti proses persidangan melalui penerjemah. Hakim Distrik AS Alvin K. Hellerstein menegaskan tanggung jawabnya untuk memastikan persidangan yang adil.
(FOTO: Wikipedia/en.wikipedia.org)
Pengacara Maduro diperkirakan akan menggugat legalitas penangkapannya dengan argumen kekebalan sebagai kepala negara yang sedang menjabat. Namun, AS tidak mengakui Maduro sebagai presiden Venezuela yang sah, merujuk pada ketidakberesan dalam pemilihan ulangnya.
Penangkapan Maduro memicu pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, di mana Rusia, China, dan beberapa pemerintah sayap kiri mengecam serangan tersebut sebagai ilegal. Sekjen PBB António Guterres menyatakan sangat prihatin bahwa aksi AS mungkin melanggar hukum internasional dan bisa menciptakan preseden berbahaya.
Di Venezuela, Presiden Sementara Delcy Rodriguez awalnya mengutuk operasi itu sebagai penculikan dan perampasan minyak. Namun, nada kemudian melunak dengan menyerukan dialog dengan pemerintahan Trump. "Kami mengundang pemerintah AS untuk bekerja sama dalam agenda perdamaian dan dialog," ujarnya.
Presiden AS Donald Trump menyatakan minatnya pada cadangan minyak Venezuela yang sangat besar. "Kami mengambil kembali apa yang mereka curi. Kami yang memegang kendali," kata Trump. Pasar merespons dengan kenaikan harga minyak dan saham perusahaan minyak AS.
Reaksi global beragam. Sekutu AS mendesak penahanan dan penghormatan terhadap hukum internasional, sementara Meksiko dan Kolombia mengutuk intervensi tersebut. Di Caracas, putra Maduro memperingatkan bahwa penangkapan itu menciptakan preseden global yang berbahaya: "Jika kita menormalkan penculikan seorang kepala negara, tidak ada negara yang aman."
Maduro akan tetap ditahan AS sementara kasusnya berlanjut. Hakim Hellerstein telah menjadwalkan sidang lanjutan dalam pertarungan hukum yang diperkirakan akan panjang. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Maduro Bantah Semua Dakwaan Narco-Terrorism di Pengadilan AS
| Pewarta | : Faizal R Arief |
| Editor | : Faizal R Arief |